![]() |
JAKARTA – Panasnya perseteruan Laut China Selatan yang disengketakan sebagian negara di Asia seperti China, Filipina, Vietnam, Brunei, Malaysia, serta ditambah dengan Amerika Serikat (AS), bikin Menteri Perikanan serta Kelautan RI, Susi Pudjiastuti, mulai bicara.
Menurut Menteri Susi, pendekatan militer akan tidak dapat untuk merampungkan perseteruan di Laut China Selatan yang telah berkelanjutan.
“Pendekatan militer mesti sebisa-bisanya dijauhi dari perseteruan di Laut China Selatan, ” tutur Menteri Susi saat mengemukakan pidato dalam seminar Laut China Selatan di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (26/6/2015).
Menteri Susi menuturkan, seluruhnya pihak yang berkonflik di Laut China Selatan mesti memakai prinsip sama-sama menghormati. Lantaran Laut China Selatan sangatlah utama untuk banyak negara, bukan sekedar untuk pihak-pihak yang berkonflik.
“Jika kita cuma mementingkan pendekatan keamanan, jadi jalan keluar akan tidak terwujud. Kita perlu wadah untuk lakukan negosiasi untuk seluruhnya negara yang berkonflik di Laut China Selatan, “ tegas Menteri Susi.
Dia menyatakan utamanya seluruhnya pihak untuk kembali pada UNCLOS 1982. UNCLOS sendiri adalah konvensi yang diadakan PBB untuk mengukur batas laut antar negara.
“UNCLOS 1982 adalah konvensi yang diadakan PBB untuk mengukur batas laut antar negara. Saya pikir UNCLOS telah mengatur perihal pemilihan batas-batas negara. ” katanya.
Meskipun telah ditata oleh UNCLOS, ia mengaku tak gampang untuk merampungkan perseteruan di Laut China Selatan. Diperlukan prinsip kehati-hatian untuk merampungkan perseteruan disana.
Seperti di beritakan, laporan yang dikeluarkan Pemerintah China belakangan ini nampaknya sudah memanaskan beberapa negara kompetitor dalam sengketa Laut China Selatan. Pemerintah China dilaporkan nyaris menyelesaikan aktivitas reklamasi Kepulauan Spratly yang juga diperebutkan oleh Filipina, Vietnam, Malaysia, serta Brunei.

0 komentar:
Posting Komentar